LMND Soroti Krisis Rupiah, Minta Pemerintah Prioritaskan Kesejahteraan Rakyat

Agenda Diskusi Publik En Lmnd
Agenda Diskusi Publik En Lmnd

Jakarta – Eksekutif Nasional Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EN LMND) menggelar diskusi publik bertajuk “Rupiah Lemah, Rakyat Susah, Pemerintah Bisa Apa?” sebagai respons atas terus melemahnya nilai tukar rupiah yang berdampak langsung pada meningkatnya beban ekonomi masyarakat. Diskusi ini menghadirkan Ketua Umum EN LMND, Claudion Kanigia Sare, dan Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Asmiati Malik, sebagai narasumber.

Dalam diskusi tersebut, para narasumber menyoroti pelemahan rupiah yang tidak hanya menjadi persoalan makroekonomi, tetapi juga berimplikasi pada kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya produksi, serta menurunnya daya beli masyarakat. Pemerintah dinilai perlu mengambil langkah konkret untuk melindungi rakyat dari dampak krisis nilai tukar yang berkepanjangan.

Ketua Umum EN LMND, Claudion Kanigia Sare, menyampaikan bahwa pelemahan rupiah menjadi bukti rapuhnya fondasi ekonomi nasional yang masih sangat bergantung pada pasar global dan impor.

“Pelemahan rupiah bukan sekadar angka di pasar valuta asing. Yang paling merasakan dampaknya adalah rakyat. Harga kebutuhan pokok naik, biaya hidup semakin tinggi, sementara pendapatan masyarakat tidak ikut meningkat. Negara harus hadir dan tidak boleh membiarkan rakyat menanggung seluruh beban krisis ekonomi,” ujar Claudion.

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah perlu memiliki keberpihakan yang jelas terhadap sektor-sektor produktif dalam negeri. Menurutnya, penguatan industri nasional, perlindungan terhadap petani dan nelayan, serta pengendalian impor merupakan langkah yang harus diprioritaskan untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

“Ketika rupiah melemah, yang dipertanyakan bukan hanya mengapa hal itu terjadi, tetapi apa yang dilakukan pemerintah untuk melindungi rakyat. Jangan sampai kebijakan ekonomi hanya berpihak pada stabilitas angka-angka makro tanpa menjawab persoalan riil yang dihadapi masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Peneliti INDEF, Asmiati Malik, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik global maupun domestik. Menurutnya, pemerintah perlu segera mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus mengantisipasi dampaknya terhadap masyarakat.

“Pelemahan rupiah memiliki dampak yang luas karena Indonesia masih memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap barang impor, baik untuk kebutuhan konsumsi maupun bahan baku industri. Jika tidak diantisipasi dengan baik, tekanan terhadap inflasi dan daya beli masyarakat akan semakin besar,” jelas Asmiati Malik.

Ia menambahkan bahwa penguatan fundamental ekonomi domestik menjadi kunci untuk menghadapi gejolak ekonomi global.

“Pemerintah perlu memperkuat sektor riil, meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri, dan memastikan kebijakan fiskal serta moneter mampu memberikan perlindungan terhadap kelompok masyarakat yang paling rentan. Stabilitas ekonomi tidak cukup hanya diukur dari indikator makro, tetapi juga dari kemampuan rakyat memenuhi kebutuhan hidupnya,” ujarnya.

Melalui diskusi publik ini, EN LMND menegaskan pentingnya peran negara dalam menjawab tantangan ekonomi nasional. Pelemahan rupiah tidak boleh dipandang sebagai persoalan teknis semata, melainkan harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat kedaulatan ekonomi dan memastikan kesejahteraan rakyat tetap menjadi prioritas utama.

Pos terkait