BOGOR – “Radikalisme itu seperti penjara pikiran.” Kalimat tersebut meluncur tenang dari Ustaz Haris Amir Falah, sosok yang kini menjadi motor penggerak perdamaian melalui Yayasan Hubbul Wathon Indonesia 19 (HWI 19) di kawasan Sentul, Bogor.
Bagi Haris, berbicara soal radikalisme bukan sekadar bicara teori, tapi bicara tentang perjalanan batin yang panjang.
Dalam berbagai obrolan santai di kanal media dan podcast, ia sering kali membedah mengapa seseorang bisa tergelincir ke jalur ekstrem dan bagaimana cara “pulang” yang paling benar.
Bukan Kurang Iman, Tapi Kurang Ilmu
Menurut Haris, banyak orang terjebak dalam paham radikal bukan karena mereka jahat, melainkan karena semangat spiritual yang meluap namun salah arah.
“Masalahnya bukan karena mereka tidak punya iman, tapi karena semangat beragama yang tinggi itu tidak dibarengi dengan ilmu yang luas. Akhirnya, mereka melihat dunia hanya hitam dan putih. Kalau tidak kawan, ya lawan,” ungkap Haris.
Ia menjelaskan bahwa indoktrinasi sering kali masuk lewat celah emosi, memanfaatkan rasa ketidakadilan untuk memicu kebencian. Padahal, menurutnya, Islam yang sesungguhnya adalah agama yang luas dan penuh ruang dialog.
Pesan untuk Pelaku Teror: “Jangan Wariskan Luka”
Satu hal yang paling kuat dari setiap ucapan Haris adalah imbauannya kepada mereka yang masih berada di “jalur keras”. Ia tidak menghakimi, melainkan mengajak mereka untuk berpikir ulang menggunakan nurani.
“Untuk teman-teman yang masih punya pemikiran ekstrem, coba deh lihat lagi wajah anak dan istri kalian. Apa itu yang mau kalian wariskan? Luka dan stigma? Segeralah hijrah. Hijrah yang bener itu membangun, bukan merusak. Kembali ke tengah masyarakat, karena di sanalah ladang pahala yang nyata,” tegasnya.
Cinta Tanah Air Adalah “Penebusan”
Melalui Yayasan HWI 19, Haris ingin membuktikan bahwa nasionalisme dan agama bukan untuk diadu. Baginya, mencintai Indonesia adalah bagian dari identitas seorang muslim yang baik.
Ia sering menekankan bahwa “jihad” masa kini tidak lagi soal senjata, melainkan soal bagaimana menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain. Di Bogor, ia mewujudkan itu dengan mengajak para eks-napiter bertani dan mengelola wisata, mengubah tangan yang dulu mungkin mengepal, kini menjadi tangan yang merangkul warga.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Islam adalah rahmat. Kami ingin menebus masa lalu dengan menjadi pelopor kedamaian di tanah ini,” tutupnya.
Catatan Redaksi:
Kisah Haris Amir Falah dan Yayasan HWI 19 kini menjadi simbol baru di Bogor bahwa rekonsiliasi itu nyata. Bahwa setiap orang, seberat apa pun masa lalunya, selalu punya jalan untuk pulang dan berkontribusi bagi negeri.
